Home / Uncategorized / Rumah Kayu Modular,Solusi Hunian Cepat bagi Penyintas Bencana

Rumah Kayu Modular,Solusi Hunian Cepat bagi Penyintas Bencana

Permana, M.T.
KK Teknologi Bangunan
Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan

Membuat rumah yang estetis, tahan gempa, terjangkau, serta cepat dibangun bukan lagi sekadar wacana. Hal ini dibuktikan melalui inovasi rumah kayu modular yang dikembangkan oleh Permana, M.T., peneliti dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK). Inovasi ini diterapkan dalam kegiatan pengabdian masyarakat pascagempa di Cianjur, Jawa Barat pada November 2022. Gempa bermagnitudo 5,6 meluluhlantakkan ribuan rumah dan infrastruktur, sekaligus merenggut banyak korban jiwa. Di tengah situasi darurat tersebut, pendekatan arsitektur modular hadir untuk menjawab kebutuhan hunian yang aman dan cepat. Kemampuan rekonstruksi hunian pasca bencana seringkali belum cukup cepat untuk mengembalikan pemenuhan kebutuhan rumah tinggal. Kondisi ini menimbulkan adanya kepentingan pengembangan sistem konstruksi cepat bangun yang mampu menyediakan hunian dengan cepat dan terjangkau di kawasan terdampak bencana. Selain itu, hunian pasca bencana juga perlu mempertimbangkan kondisi psikologis dari penyintas, termasuk pemilihan material bangunan yang mampu menghadirkan rasa aman dan nyaman.

Kurang dari 24 Jam

Untuk merespons kondisi darurat pasca gempa, diperlukan sistem hunian yang dapat dibangun dalam waktu kurang dari 24 jam. Inovasi ini dikembangkan melalui teknik desain produk berbasis komponen profil kayu yang disusun secara teratur menjadi modulmodul struktural. Setiap modul dirancang sebagai rangkaian komponen bangunan yang presisi, sehingga proses perakitan di lapangan dapat dilakukan dengan singkat dan minim pemborosan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini tidak hanya bertujuan menyediakan hunian darurat, tetapi juga berkontribusi pada pemulihan ekonomi pascagempa di Cianjur, sekaligus mengimplementasikan hasil riset yang telah memperoleh paten sistem rumah kayu modular (P00201700592) dan atap modular (P00201609045). Sistem kayu modular ini dibuat dari potongan kayu berukuran kecil yang disusun menjadi profil tertentu, menghasilkan elemen struktural yang kuat, ringan, dan mudah dirakit. Rumah kayu modular ini pada awalnya merupakan produk riset, bukan dirancang khusus untuk kegiatan pengabdian masyarakat, yang rencananya akan dibangun di sekitar kampus ITB di kawasan Dago. Namun, gempa Cianjur mengubah arah penerapan riset tersebut. Empat hari setelah gempa, Permana dan tim langsung Dalam Pengabdian Masyarakat menuju Cianjur untuk mencari lokasi yang memungkinkan pemasangan rumah prototipe.

Pada saat yang sama, ia juga tengah mengajukan proposal pengabdian masyarakat yang akhirnya disetujui bersamaan dengan izin pelaksanaan. Substansi utama dari pengabdian masyarakat ini adalah penerimaan masyarakat dan para pemangku kepentingan terhadap konsep hunian modular yang relatif baru. Bahkan di lingkungan ITB, konsep ini masih memunculkan pro dan kontra. Permana diberi waktu satu minggu untuk membangun rumah modular, namun dalam praktiknya, rumah tersebut berhasil diselesaikan hanya dalam waktu satu hari. Keberhasilan ini mendapat apresiasi langsung dari masyarakat setempat. Kepala Desa Gasol, Kecamatan Cugenang yang wilayahnya menjadi episentrum gempa, secara aktif mengawal proses pembangunan hingga malam hari sebagai bentuk keinginan untuk memastikan bahwa rumah tersebut benar-benar dapat selesai dan digunakan. “Secara substansi, ini sesuai dengan judul pengabdian masyarakat. Saya membuktikan bahwa riset konstruksi rumah 24 jam itu bisa dan momentumnya tepat saat terjadi bencana gempa di Cianjur,” ujar Permana. Proses pembangunan tidak lepas dari berbagai tantangan. Pembangunan dilakukan ketika kondisi pascagempa masih sangat genting.

sangat genting. Sulit mencari tenaga kerja lokal karena warga masih berfokus pada keselamatan diri dan keluarga. Infrastruktur jalan mengalami kerusakan berat, kendaraan pengangkut material sulit ditemukan, dan banyak toko material yang tutup. Akibatnya, seluruh tim bekerja secara mandiri, hanya dibantu dua orang santri untuk urusan logistik. Pengalaman ini menjadi pembelajaran penting bahwa dalam situasi bencana, kemandirian dalam pengadaan material dan peralatan menjadi kunci agar pekerjaan dapat berjalan cepat dan efisien. Dalam kondisi normal, Permana berharap sistem ini justru dapat diproduksi dan dibangun langsung oleh masyarakat lokal. Modul kayu dapat dibuat dari berbagai jenis material, mulai dari kayu solid, kayu rimba, hingga kayu limbah. “Bahannya bisa dari kayu solid, kayu rimba, bahkan kayu limbah. Yang dipatenkan itu bukan bahannya, tetapi profilnya, bentuknya. Kalau masyarakat umum yang membuat dan meniru, itu akan menjadi amal jariah bagi saya dan ITB. Jika untuk industri, harus membayar patennya,” jelas Permana.

Tahan Gempa

Sistem yang digunakan untuk membangun rumah modular ini dengan membagi komponen rumah dalam tiga klasifikasi yaitu struktural, non struktural, dan aksesori. Komponen struktur bersifat wajib, terdiri dari tujuh modul utama dan empat modul pilihan untuk dinding, serta satu modul khusus untuk atap. Modul berukuran 18 mm x 30 cm x 7,2 cm yang digunakan melewati proses treatment anti rayap untuk menjamin umur panjang. Selain itu, untuk area yang bersentuhan langsung dengan tanah atau rawan panas seperti dapur dan kamar mandi, diberikan lapisan pelindung khusus (coating) yang membuatnya tahan air hingga tahan api. Salah satu keunikan yang membedakannya dengan bangunan konvensional adalah tidak memerlukan pondasi tanam. Rumah kayu modular ini dirancang dengan distribusi beban yang merata ke seluruh permukaan. Hal ini tidak hanya mempercepat proses pembangunan, tetapi juga memberikan fleksibilitas pada struktur bangunan saat menerima beban dari atas maupun guncangan dari bawah.

Pengembangan

Keberhasilan prototipe rumah kayu modular di Cianjur mendorong penerapan lebih lanjut. Melalui program CSR PLAN, Permana, M.T. juga membangun lima rumah serupa untuk ditinggali oleh guru madrasah. Rumah ini bisa bertahan 6-7 tahun jika tanpa perawatan dan bisa berdiri hingga 20 tahun jika dirawat.Karena masih berupa prototipe, biaya pembangunan rumah kayu modular ini masih relatif tinggi. Untuk rumah tipe 18 seperti yang dibangun di Cianjur, biayanya mencapai sekitar Rp5,5 juta per meter persegi. Permana menegaskan bahwa angka ini akan turun drastis apabila sistem ini telah memasuki tahap hilirisasi dan produksi industri, bahkan bisa mencapai Rp1,5 juta per meter persegi. Efisiensi tersebut akan semakin mungkin terwujud apabila didukung oleh ekosistem industri kayu yang terintegrasi, misalnya melalui pemanfaatan hutan produksi kayu kelas tiga seperti jabon, sengon, dan akasia. Dengan sistem panen bergilir, pabrik yang berada dekat sumber material, serta minimnya biaya distribusi, kawasan ini berpotensi berkembang menjadi industrial estate berbasis kayu. Namun metode ini membutuhkan investasi awal yang sangat besar.

Sebagai langkah awal, saat ini Permana tengah merintis ekosistem produksi kayu modular berbasis home industry di wilayah Sumedang dan Rajamandala. Produksi dilakukan dengan memanfaatkan kepingan kayu berukuran kecil yang sebelumnya tidak terpakai. Melalui teknologi sederhana dan pendekatan lokal, warga dapat memproduksi modul kayu secara mandiri. “Dengan pendekatan pengabdian masyarakat, kayu modul ini dikumpulkan kemudian akan kami beli sehingga kita punya stok di banyak tempat. Jadi, kalau ada gempa, modul itu sudah tersedia,” jelasnya. Pada akhirnya, rumah kayu modular menawarkan keunggulan utama yang sulit dicapai oleh rumah konvensional. Rumah yang cepat dibangun, terjangkau, mudah dikerjakan, dan tetap berkualitas. Melalui sistem modular, aspek-aspek tersebut dapat dicapai secara bersamaan. “Kalau mau murah, jangan minta bagus dan cepat. Kalau mau bagus, tidak bisa cepat dan tidak murah,” ujar Permana.

Diadopsi untuk Program Rutilahu

Permana, M.T. mengungkapkan bahwa inovasi ini menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Hal ini bermula ketika rombongan Bupati Sumbawa Barat, didampingi Bappeda dan Dinas Perkim, mengunjungi lokasi gempa di Cianjur dan bertemu langsung dengan Kepala Desa Gasol, Cugenang. Bupati berencana untuk mengadopsi rumah modular ini untuk program Rumah Tidak Layak Huni (rutilahu) di Kecamatan Taliwang, pesisir barat Pulau Sumbawa. Sebagai langkah awal, satu unit prototipe dijadwalkan akan dibangun pada 20 Oktober 2025. Jika prototipe ini diterima dengan baik, pembangunan akan dilanjutkan sebanyak 150 unit pada tahun berikutnya. Apabila respons masyarakat positif, target pembangunan dapat hingga 2.000 unit di tahun selanjutnya. “Prospek pembangunannya sangat cerah. Sumbawa terkenal dengan kayu berkualitas nomor satu, bahkan harga kayu jati di sana sangat murah. Saking melimpahnya, kandang ayam pun menggunakan kayu jati. Sayang rasanya jika kayu semewah itu digunakan untuk rumah modular,” jelas Permana, M.T

Oleh karena itu, Permana, M.T. berencana memanfaatkan jenis kayu lain seperti kayu banten atau kayu jawa. Di mata masyarakat setempat, kualitas kayukayu ini dianggap kurang bagus dan harganya sangat murah. Namun, dengan teknologi modular, kayu tersebut dapat diolah menjadi material hunian yang layak. Selain material, Permana, M.T. juga menekankan penggunaan tenaga kerja lokal. “Jika program ini terealisasi, ekonomi Sumbawa akan bergerak dan banyak tenaga kerja terserap,” tambahnya. Ia meyakini rumah kayu modular dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi daerah. Produksinya dapat dilakukan secara tersebar hingga ke pelosok desa di pinggiran hutan. “Kita bisa meminta mereka membuat kayu modular karena bahanbahannya mudah didapatkan dan teknologinya tidak terlalu rumit. Itu di hulu,” ujarnya. Di hilir, pemerintah membutuhkan sekitar tiga juta rumah per tahun. “Jika kami diberi kepercayaan membangun 100.000 unit saja, pasti bisa dibeli. bisa menggerakkan supply chain dari hulu ke hilir. Kalau terus berkembang, perputaran ekonomi semakin besar, daya beli masyarakat meningkat, harga rumah terjangkau, dan janji kampanye terpenuhi,” ujarnya. Jika dilakukan secara masif, Permana, M.T. optimistis kebutuhan rumah layak huni di Indonesia akan terpenuhi dalam waktu dekat.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *